Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Januari 2013

MENANAM JAHE DI LAHAN TERBATAS SAMPING RUMAH


Tak ada Rotan akarpun jadi. Meskipun tak punya lahan, halaman rumah-pun jadi asalkan ada kemampuan dan kemauan. 
Halaman sempit di sekitar rumah ternyata bisa dimanfaatkan lebih produktif sebagai media bertani untuk menambah isi kantong kita. Akhir-akhir ini beberapa warga desa mengembangkan teknologi sederhana ini, yaitu menanam jahe dalam kantong bekas bulog atau dalam plastik polybag.

Basirun, seorang sekretaris desa Paseh sudah mulai mencoba mempraktikan teknologi pertanian ini. Beliau telah menanam kurang lebih 800 buah Polybag yang di tanami jahe merah di samping-samping halaman rumahnya yang tidak terlalu luas. Teknologi ini terbilang sangat praktis, mudah dan murah namun bisa menghasilkan tambahan uang saku yang fantastis. Dari satu polybag rata-rata dengan modal hanya dua ribu rupiah akan memperoleh pengembalian hingga ratusan ribu rupiah.


Teknologi pertanian ini sudah banyak di kembangkan di wilayah kabupaten Banjarnegara khususnya di daerah kecamatan Mandiraja. Masyarakat sudah banyak menanam dan membudidayakan jahe merah ini di pinggir-pinggir kolam bahkan di samping-samping halaman rumah mereka.

“Menanam Jahe tidaklah terlalu sulit” paparnya. Jahe tergolong jenis tumbuhan yang mudah dikembangkan di media-media yang terbatas, dan cara menanamnya-pun cukup mudah. Pertama-tama jahe yang akan dijadikan bibit dipilih dengan memilih jahe berkualitas. Setelah itu buatlah media pembibitan dengan mencampurkan tanah, pupuk kandang, sabut kelapa dan pasir untuk membuat media tumbuh bibit. Tebarkan bibit jahe tersebut di dalam media yang telah disiapkan.  Tanam dengan kedalaman kurang lebih tiga cenitimeter dari permukaan. Jangan lupa, diatas tanah tempat persemaian ditutup jerami atau dedaunan dan juga peneduh seperti daun kelapa atau dedauanan lain. Tujuanya adalah mengindari air hujan secara langsung menetes di atas media semai sehingga bibit jahe tersebut tidak akan muncul ke permukaan. 
Sambil menunggu tumbuhnya tunas, siapkan pula kantong-kantong  polybag, baik polybag plastik atau dengan kantong bekas beras bulog ukuran 15 kg, kemudian mengisinya dengan media tanam yang sama yaitu campuran tanah, pasir, sabut kelapa dan pupuk kandang. Isi kantong tersebut setinggi kurang lebih 10cm, lalu lilit kantong bagian atas sampai ukuran tanah. 
Setelah penyemaian bibit selama kurang lebih dua minggu dan kira-kira tumbuh sebanyak tiga lembar daun, kemudian pindahkan bibit tersebut kedalam media tanam dengan cara memotong tunas tersebut dari rimpangnya kemudian pindahkan ke polybag yang telah disiapkan tadi. Tanam kembali rimpang yang telah di ambil tunasnya untuk disemaikan kembali. 
Setelah tanaman dalam polybag tumbuh tinggi dan tumbuh sebanyak tunas sebanyak 3 sampai 5 tunas, kemudian tambahkan tanah kembali  kedalam polybag sambil melepas sedikit-demi sedikit lilitan kantong tersebut ke atas. Begitu seterusnya.

Sebagai gambaran, satu kilogram bibit jahe dapat menghasilkan seratus hingga duaratus tunas yang siap dipindahkan ke dalam polybag dan dalam jangka waktu 9 bulan sampai 1 tahun akan menghasilkan 4 sampai 9 kilogram jahe dalam satu polybag.
Jadi jika anda masih memiliki halaman rumah yang belum produktif, anda bisa mencoba menambah pemasukan dengan cara menanam Jahe. 
Mudah kan…. 
Semoga bermanfaat.

Senin, 21 Januari 2013

Inspirasi: Mencari Inovasi Menaikan Nilai Ekonomis Salak



Salah satu komoditas unggul yang dimiliki Desa Paseh adalah Salak Pondoh, hampir semua warga atau sekitar 70% warga menggantungkan hidupnya dari Snake Fruit ini. Buah yang terasa manis asam ini sangat melimpah di Desa Paseh terutama ketika panen raya sehingga harganyapun jatuh. Memang para petani belum punya proteksi dan standarisasi harga jual yang di tentukan. Moment ini sering dimanfaatkan para pedagang besar nakal yang ingin mengeruk lebih banyak keuntungan. Mereka akan membeli dengan harga serendah-rendahnya padahal harga jual eceran mereka tetap. Menyikapi hal ini mendorong kita harus lebih kreatif lagi mengatasi turunya harga yang sangat merugikan petani.

Akhir-akhir ini telah banyak inovasi baru guna menaikan nilai ekonomis buah salak ini. Dari tangan-tangan kreatif, buah ini bisa disulap menjadi berbagai olahan menarik yang dapat meningkatkan nilai ekonomis Salak ketimbang hanya dijual segar. Berbagai olahan lain dari tangan-tangan kreatif diantaranya Keripik Salak, Dodol Salak, Jenang Salak, Kurma Salak, Brownies Salak, Sirup, Cake Salak dan akhir-akhir ini telah diproduksi Wine Salak. Ya.. Wine Salak, mungkin tak terfikirkan dari kita bahwa Wine bisa dibuat dari buah Salak. Kebanyakan dari kita menganggap bahan dasar Wine hanya dari buah Anggur, padahal banyak varian bahan seperti  Nanas, Jambu Mete, Pisang Uter, Ketela, serta kulit Pisang Ambon dan Salak.
Seorang peneliti dari Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Tri Yahya, buah-buah lokal tersebut bisa diolah menjadi minuman fermentasi Wine lokal. Ia menunjukkan minuman fermentasi yang dibuatnya bersama mahasiswanya.

Untuk membuat sepuluh liter minuman fermentasi ini hanya dibutuhkan 1 kilo gram buah salak dengan kandungan alkohol 10 – 14 %. Wine salak ini dibuat dari buah salak, gula pasir, ragi roti, dan asam nitrat.
Jika digunakan dengan bijak fermentasi ini mempunyai banyak manfaat seperti membunuh bakteri penyebab diare serta membantu pencernaan tubuh. Dan bahkan sejak dahulu orang-orang Eropa telah memanfaatkan Wine sebagai minuman penghangat tubuh saat musim dingin tiba.
Kalo kita hitung dari nilai ekonomis, olahan ini sangat menguntungkan. Dari 1 kilo bisa mengahsilka 10 liter dengan harga jual per botol sekitar 700cc di Jogja dibandrol Rp. 20.000  dan di Bali Rp. 65.000 sedangkan harga buah Salak segar berkisar antara Rp.2.500 – 7.000.

Gambaran harga tersebut, mempunyai selisih yang lumayan besar. Jika kita mampu memproduksi dengan inovasi-inovasi baru yang lebih baik dan sesuai dengan nilai-nilai luhur komunitas Desa dan terpenting adalah mampu memasarkanya dengan baik sehingga diharapkan akan mampu menaikan ekonomi masyarakat khususnya masyarakat desa Paseh. tak hanya Wine tapi produk apapun itu.

Untuk Wine hambatan yang mungkin muncul adalah sulitnya memperoleh ijin dan juga terkait dengan agama dan kepercayaan masyarakat karena minuman ini mengandung alkohol.

Kita butuh orang-orang kreatif untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat, terutama menaikan nilai jual dari sumber daya lokal yang kita miliki agar kita mampu bersaing dan tidak ada lagi pedagang yang memanfaatkan para petani untuk mengeruk keuntungan dengan seenaknya menurunkan harga.

Dari gambaran di atas mudah-mudahan akan menginspirasi kita semua untuk selalu berinovasi “think outside the box” berfikir diluar kebiasaan.

Kamis, 13 September 2012

TEKNOLOGI FERMENTASI PAKAN UNTUK PENGGEMUKAN DOMBA


Peternakan merupakan salah satu bidang pertanian yang mempunyai peranan sangat besar dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam sektor pertanian. Bila dikelola dengan baik hal ini akan menjadi sumber mata pencaharian yang menjanjikan bagi masyarakat. Pertanian dan perternakan merupakan dua bidang yang berbeda tapi sangat terkaitverat hubunganya. Baru-baru ini peternakn modern telah masuk ke wilayah desa-desa diantaranya adalah desa Paseh melalui gapoktan. Adalah Bpk. Suaratin 28 th yang tinggal di RT07/02 Desa Paseh Banjarmangu dan Ibu Sukapti  Handayani seorang ibu rumah tangga yang beralamat di Desa Paseh RT 05/ RW 03. Beliau adalah salah satu warga yang telah mengembangkan teknologi pertanian ini. Teknologi pertanian ini memang sangat mudah dilakukan oleh semua orang baik laki-laki atau perempuan. Metode ini adalah peternakan yang mengacu kepada system pertanian organik tanpa bahan kimia.
Selain hasil dari peternakanya, budidaya ini juga menghasilkan nilai ekonomis lain berupa air kencing domba dan kotoran domba yang kemudian di proses kembali menjadi berbagai macam bahan baik untuk pertanian seperti pupuk, pestisida maupun untuk peternakan seperti pakan ternak dan nutrisi untuk peternakan.
Pertanian tanpa pupuk kandang, maka hasil pertaniannya tidak maksimal. Maka para petani di desa Paseh memanfaatkan hasil limbah ternak (pupuk kandang) yang bisa digunakan sebagai pupuk untuk memupuk tanaman.
Pada sisi lain Pemerintah Indonesia sudah mematok bahwa sampai dengan tahun 2014 pertanian kita harus sudah organik. Sejalan dengan itu, usaha penggemukan domba dengan teknologi ini dan melalaui penelitian akan menghasilkan daging domba organik yang tentu saja menyehatkan.
Secara ringkas model penggemukan domba dengan teknologi ini memiliki beberapa kelebihan diantaranya :
1.       Tidak perlu merumput tiap hari karena bahan pakan diolah dengan Teknologi fermentasi dan dapat disimpan sesuai kebutuhan.
2.       Tidak menimbulkan bau/amoniak, karena limbah secara alami di proses oleh mikroorganisme yang ada di bahan pakan.
3.       Menghasilkan limbah yang berkualtas, bisa dimanfaatkan untuk pupuk tamanan, pakan unggas (ayam, bebek, ikan dll).
4.       Tidak memerlukan tempat yang luas, karena untuk 10 ekor cukup hanya dengan kandang ukuran 1.5 x 3 meter.
5.       Bahan pakan mudah didapat, karena pakan dibuat dari berbagai campuran yang ada di lingkungan kita seperti gedebog pisang, rumput, ketela dll.
6.       Proses Fermentasinya singkat hanya 24 jam sudah siap / jadi.
7.       Waktu pemeliharaan cukup singkat, hanya 3 bulan, dan pangsa pasar masih terbuka lebar.
ANALISA PENGGEMUKAN DOMBA 20 EKOR DALAM WAKTU 3 BULAN
DENGAN TMM (Teknologi Mikroorganisme Metriks)

1.            Biaya investasi (Tetap) Penyusutan 5%
a)                   Bangunan Kandang                         Rp. 5.000.000,-
b)                  Bak / tempat Fermentasi                  Rp. 1.500.000,-
c)                   Biaya alat- alat lain2                        Rp.    500.000,-
Jumlah Biaya Investasi Rp. 7.000.000,-- Penyusutan Rp. 350.000,-               Rp 6.650.000,-

2.            Biaya produksi (variable)
a)      Pembelian bibit domba 20 ekor @ 18 kg x Rp.612.000 x 20     Rp.12.240.000,-
b)      Tenaga kerja  1 orang @ Rp.750.000 x 3 bulan                         Rp.  2.250.000,-
c)       Pakan  Rp.30.000,-/bulan /ekor  x 3 bulan x 20 ekor                 Rp   1.800.000,-
d)      Lain-lain Rp.250.000,- x 3 bulan                                                Rp.     750.000,-
Jumlah biaya produksi                                                                      Rp.17.040.000,-
3.            Pendapatan (Asumsi pertambahan bobot 23 kg  selama 3 bulan)
a)      Penjualan 41 kg /ekor x Rp.31.000,- = Rp.1.271.000,- x 20 ekor        Rp.25.420.000,-
b)      Hasil kotoran 18 kg/bulan /ekor  x 20 ekor x 3 bulan x Rp.500,-/kg      Rp       540.000,-
c)       Limbah kecing 6 lt/ bulan /ekor x 20 ekor x 3 bulan x Rp.500,-/lt          Rp.     180.000,-
Total Pendapatan                                                                                        Rp.26.140.000,-

4.            Keuntungan :
Pendapatan – Biaya Produksi  :
= Rp.26.140.000,- - Rp.17.040.000,-            = Rp.  9.100.000,- / 3 bulan atau :
= Rp.  7.860.000,- : 3  bulan                           = Rp.  3.033.333,-/ bulan atau :
= Rp.  7.860.000,- : 20  ekor                          = Rp.      455.000,-/ ekor

5.            Analisa Usaha :

a.            Laba Usaha         = Pendapatan     –  (Biaya Produksi + Biaya Investasi )
= Rp.26.140.000,- - (Rp.17.040.000,+ Rp.6.650,000,-)
                                                    = Rp.26.140.000,- ( - ) Rp.23.690.000,-
                                                                     = Rp.2.450.000,-

b.            Analisa Kelayakan Usaha (B/C Ratio)
                                B/C Ratio             = Pendapatan / Biaya
                                                            =Rp.26.140.000  / Rp.23.690.000,-
                                                            = Rp.1.103,-
Yang artinya bahwa setiap peningkatan biaya sebesar Rp.100,-akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp. 1.103,-

c.             Analisis BEP (Break Even Point)
                                BEP Harga Produk            = Pendapatan / total pertambahan berat/jumlah domba
                                                                                = Rp.26.140.000  : 460 kg  : 20 ekor
                                                                                = Rp.65,826 kg : 20 ekor
                                                                                = Rp.2.841,- kg/ekor
Artinya bahwa titik impas akan tercapai apabila domba dijual dengan harga Rp.2.841,-/kg bobot hidup

d.            Analisa Efisiensi Penggunaan Modal (Return Of Invesment / ROI)
ROI      = Laba / Total biaya x 100 %
= Rp.2.450.000,-:  Rp.23.690.000,-  x 100 %
= Rp.10.34 % / tiga bulan
Artinya bahwa usaha ini menghasilkan pendapatan setara dengan bunga Bank 10.34% per tiga bulan, atau 3.45% per bulan
Prosentase Pemberian Pakan 10% dari berat badan
Prosentase Pembuatan pakan untuk 100 kg         :
35 % Debog Pisang          = 35 kg
25 % Ampas Tahu             = 25 kg
15 % PMT / rumput         = 15 kg
15 % Gaber / Ketela        = 15 kg
8  %  Bekatul                   =   8 kg
1 % Tetes tebu/ gula pasir            =   1 kg
1 % Mineral / garam iodium         =   1 kg
Kemudian dicampurkan dengan Suplemen Organik Cair ( SOC )

Rabu, 27 Juni 2012

PENGENDALIAN KARAT TUMOR PADA ALBASIA


Penyakit gall rust (karat tumor, karat paru) merupakan salah satu penyakit berbahaya bagi tanaman albasia (paraserianthes falcataria).  Adanya epidemi penyakit ini di Kabupaten Banjarnegara sebagai salah satu penghasil kayu albasia di Indonesia merupakan ancaman penurunan jumlah produksi pabrik kayu secara besar pada tahun mendatang. Desa Paseh sebagai salah satu penyuplai kayu albasia perlu berperan dalam menanggulangi hal tersebut dan mencarai strategi penyelamatan agar tahun kedepan Desa Paseh masih mampu menghasilkan dan menyuplai kayu albasia sekaligus membantu petani agar tidak merugi. Berikut adalah tips dalam mengendalikan karat tumor pada tanaman albasia.



DI TINGKAT PERSEMAIAN
1.       Biji albasia yang akan ditanam harus diketahui dengan jelas asal-usulnya, dipastikan dari pohon penghasil biji yang sehat, karena jamur dapat terbawa pada biji yang telah terinfeksi di tempat asalnya.
2.       Seleksi biji yang sehat dan memiliki kenampakan baik perlu dilakukan untuk mengurangi resiko terjadinya penyakit karat tumor pada semai. Penyemprotan dengan fungisida protektan pada biji harus dilakukan tiap 6 hari sekali (di dalam sel inang jamur karat akan memproduksi spora baru tiap 7 hari setelah infeksi ), sampai semai akan siap ditanam di lapangan.
3.       Semai yang menunjukan gejala harus diseleksi dan di singkirkan dari persemaian,dikumpulkan dalam lubang dan di timbun dalam tanah.
4.       Untuk menghindari resiko besar kerusakan oleh semai jamur karat, persemaian hendaknya dibuat di dataran rendah, terutama di bawah 300 m dpl dan tempat terbuka.
5.       Semai yang kuat pada umumnya akan memiliki ketahanan yang  lebih tinggi terhadap serangan jamur karat tumor. Dengan demikian, standar pembuatan semai yang berkualitas dan bagus perlu ditarapakan.
6.       Semai yang sehat dan kuat merupakan salah satu kunci utama penunjang keberhasilan pertumbuhan tanaman albsia yang baik, pengawasan kesehatan semai yang harus dilakukan oleh tenaga terlatih dan terdidik.
7.       Penggunan benih albsia yang telah diketahui tahan atau relative tahan terhadap penyakit karat tumor sangat dianjurkan.
8.       Mengingat gejala awal penyebab penyakit karat tumor di persemaian kadang tidak jelas dan secara sepintas hampir sama dengan tanaman sehat, maka tenaga yang terlibat dengan pembuatan semai perlu mendapatkan pelatihan khusus untuk mengenali gejala penyakit karat dan tumor tersebut.
9.       Sisa semai albasia yang tidak lagi digunakan di persemaian, sebaikanya dibuang dan di timbun di dalam tanah agar tidak menjadi inang bagi jamur karat dan sumber inomulum yang membahayakan bagi semai yang akan di usahakan pada berikutnya.
10.   Perlindungan semai sejak mulai diletakan di persamaian dengan penyemprotan menggunakan fungisida kontak yang kombinsai dengan fungisida sistematik yang sesuai sangat dianjurkan untuk mengurangi resiko infeksi dan terjadinya karat tumor.

PADA TANAMAN MUDA SEBELUM UMUR 1 TAHUN
1.       Tanaman muda yang telah menunjukan gejala karat tumor pada tingkat awal dan masih berpotensi untuk tumbuh denganbaik perlu segera dirawat. Penyemprotan dengan fungisida tyang sesuia terutama saat cuaca mendung namun tidak hujan, sdangst dianjurkan. Penyemprotan dapat dilakukan satu minggu sekali selama satu bulan. Setelah itu, intensitas penyemprotan dijarangkan menjadi dua minggu sekali selama dua bulan.
2.       Pemupukan dengan pupuk NPK perlu dilakukan untuk meningkatkan kekokohan tanaman. Namun proporsi unsur N (nitrogen) sebaiknya diturunkan, sedangkan proporsi unsur K (kalium) ditingkatkan, karena jamur karat merupakan parasit obligat, maka perkembangannya jamur akan intensif pada tanaman yang tumbuh subur. Pupuk N yang tinggi menyebabkan tanaman tumbuh cepat, sehingga lebih rentan terhadap serangan jamur karat. Sedangkan pupuk K, dapat berfungsi untuk meningkatkan kekerasan dan kerapatan sel-sel tanaman sehingga relatif akan lebih toleran terhadap infeksi oleh jamur karat.
3.       Tanaman muda yang menunjukan gejala karat tumor lanjut dan batangnya memiliki kenampakan yang tidak baik serta tidak prospektif, perlu segera dicabut, disingkirkan dari lapangan, dimasukan dalam lubang dan di timbun dalam tanah.
4.       Dilapangan, pembakaran tumor yang masih berwarna coklat segar dan spora yang masih aktif di permukanaanya, sangat tidak dibenarkan karena justru dapat menyebarkan spora aktif tersebut ke sekitaranya. Namun, pembakaran tanaman albasia yang telah kering dengan tumor berwarna hitam dan telah dikumpulkan ke dalam lubang tanah, dapat dibenarkan.
5.       Secara umum pembakaran tanaman, bagian tanaman, ataupun tumor pada saat masih berada pada tanaman dilapangan, tanpa mengumpulkan terlebih dahulu kedalam lubang tanah, tidak dibenarakan. Adanya sedikit angain yang dipicu oleh api, sangat berperan dalam menyebarkan spora jamur karat, disamping juga dapat membahyakan tanaman disekitarnya.
6.       Penanaman alabsia baru hendaknya dilakukuan di lokasi dibawah 300 m dpl menggunakan bibit yang kuat, dilokasi yang tidak lembab dan terbuka. Pada hari pertama semai dipindahkan dilapangan, perlu dilakukan penyemprotan dengan fungisida protektan. Penyermprotan dilakukan 5-6 hari sekali selama 1 bulan, dilanjutkan 2 minggu sekali selama 1 bulan sekali selama 6 bulan. Bagian yang disemprot diutamakan pada bagian pucuk yang jaringanya masih muda dan mudah terinfeksi oleh jamur karat penyebab penyakit  karat tumor.
7.       Monitoring secara intensif pada tanaman muda untuk segera menghilangkan inokulum jamur di lapangan agar tidak menyebar dan berkembang, perlu dilakukan secara serius. Petugas monitoring ataupun petani, perlu mendapatkan pelatihan khusus untuk mengenali dan menghilangkan inokulum di lapangan, agar hasilnya dapat optimal.

PADA TANAMAN TUA
1.       Penjarangan tanaman perlu dilakukan antara lain untuk meningkatakan jumlah sinar matahari yang masuk dan mengurangi kelembaban, sehingga mengurangi resiko serangan karat tumor. Penjarangan diprioritaskan untuk mengeluarkan tanaman yang pertumbuhanya kurang baik, tertekan atau telah menunjukan gejala karat tumor pada tingkat lanjut.
2.       Pemangkasan cabang (pruning) untuk menghilangkan karat tumor hanya efektif dilakukan apabila gejala terletak pada cabang atau ranting. Teknik pemotongan bagian tanaman yang terkena serangan jamur karat tumor harus dilakukan secara tepat. Teknik yang tidak tepat, seperti misalnya hanya mengupas tumor dari cabang atau batang tanaman saja, justru akan menimbulkan infeksi yang berulang dan memperparah tingkat serangan berikutnya.
3.       Tumor pada tanaman dewasa  umumnya berada pada cabang, ranting dan batang. Apabila letak tumor masih rendah dan mampu dijangkau oleh galah, maka pemangkasan cabnag dengan alat bantu ini dapat dilakukan untuk mengurangi jumlah tumor di lapangan. Kegiatan disarankan hanya dilakukan pada pohon yang masih prospektif pertumbuhanya. Sedangkan pada pohon yang pertumbuhanya jelek dan tidak memiliki nilai ekonomis lagi, penebnagn sangan dianjaurkan.
4.       Tumor pada bagian batang tanaman dewasa, terutama pada bagian atas, dapat menyebabkan batang tanaman mudah patah, terutama apabila terjadi hujan lebat dengan angin kencang. Dengan demikian, tanaman dewasa yang batangnya ditumbuhi dengan tumor yang intensif sebaiknya ditebnag. Kemungkinan besar telah laku dijual. Adapun bagian yang mengandung tumor dipotong dan ditimbun dalam tanah.
5.       Tanaman dewasa di lapangan yang telah menunjukan gejala lanjut, sehingga seluruh tanaman kering dan menghitam, harus segera ditebang dan dimusnahkan. Tanaman seperti ini selain secara estetika tidak baik untuk pemandangan juga mungkin berpotensi mengundang hama atau penyakit sekuder lain yang memanfaatkan tanaman yang telah mati tersebut. Pembakaran tanaman yang telah kering dan menghitam sangat dianjurkan, karena tanaman ini sudah tidak mengandung spora aktif. Dengan demikian, penyebaran spora yang tidak aktif relative tidak membahayakan lingkungan dan tanaman di sekitarnya.


Sumber : Dinas Kehutanan Dan Perkebunan Kabupaten Banjarnegara